Perintis Credit Union Di Indonesia
Sebagai
bentuk kesadaran Gereja Katolik terhadap pentingnya pemberdayaan ekonomi
rakyat, KWI (Konferensi Waligereja Indonesia, waktu itu bernama Majelis Agung
Waligereja Indonesia-MAWI, menugaskan Pater Albrecht, SJ (Delegatus Sosial
Keukupan Agung Jakarta) dan sejawatnya Frans Lubbers, OSC (Delegatus Sosial Keuskupan Bandung)
mengembangkan Credit Union bersama semua Delegatus Sosial Keuskupan.
Dimulai dari
SELA (Socio Economic Life in Asia, Lembaga yang berada di bawah Serikat Jesus)
menyelenggarakan sebuah seminar panjang di Bangkok tahun 1963 dengan pembicara
para imam dan awam dari Amerika, Eropa dan Philipina. SELA adalah lembaga yang
pertama kali memperkenalkan Credit Union
di Asia, termasuk Indonesia. Seminar yang
bertajuk Community Development and Credit Union inilah yang menjadi
tonggak awal ide pengembangan Credit Union di Indonesia. Seminar
tersebut dihadiri oleh Carolus Albrecht SJ, John Dijkstra SJ, Frans Lubbers,
OSC dan dari masyarakat awam hadir FX. Bambang Ismawan, Nico Susilo dan
Sumitro.
Sekembalinya
mereka dari seminar tersebut tidak serta-merta langsung mendirikan Credit
Union. Setelah 2 tahun menjalani
pergumulan, Ikatan Petani Pancasila memulainya dengan membentuk Kelompok Usaha
Bersama Simpan Pinjam pada tahun 1965 ketika FX. Bambang Ismawan menjadi Ketua
Umum Ikatan Petani Pancasila. Kelompok
usaha serupa banyak berkembang di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Lampung.
Walaupun
Credit Union belum juga didirikan, namun seminar-seminar Credit Union terus
dilaksanakan, seperti di Bandung tahun 1968 dan Sukabumi tahun 1969 oleh Frans
Lubbers, OSC. Akhirnya Pater Albrecht
mengundang
CUNA (The Credit Union National Association (USA) secara resmi pada tahun 1967, untuk memperkenalkan
gerakan Credit Union ke Indonesia. Saat itu hadir A.A. Bailey mewakili CUNA dan
Augustine R. Kang Manager ACCU (The Asian Confederation of Credit Union).
Pembentukan
CUCO ini melewati proses yang panjang, tahun 1969 Pastor John Collins, SJ
diminta ke Jakarta untuk melakukan kajian kelayakan Credit Union yang
dikembangkan di Indonesia. Kesimpulannya
Credit Union dianggap layak untuk dikembangkan dengan syarat 5 tahun masa
inkubasi. Embrio gerakan Credit
Union baru
terbentuk tepatnya 4 Januari 1970, ketika Pater
Albrecht membentuk Credit Union Counselling
Office (CUCO) yang
beralamat di Jalan Gunung Sahari N0. 88 Jakarta (Kini menjadi kantor INKOPDIT) dan Drs. Robby Tulus sebagai pelaksananya.
Berkat
dukungan Dirjen Koperasi saat itu yaitu Bapak Ir. Ibnoe Soedjono akhirnya
Credit Union layak untuk dikembangkan bahkan Ibnoe Soedjono menjadi Ketua Dewan
Penyantun CUCO yang beranggotakan Raden Mas Margono Djoyohadikusumo (pendiri BNI 46), Prof. Dr. Fuad Hasan (Guru besar
psikologi yang kemudian menjadi Menteri Pendidikan & Kebudayaan),
Mochtar Lubis (wartawan dan satrawan),
Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ (Pendiri
Lembaga Pendidikan & Pengembangan Manajemen), A.J.
Sumandar, John Dijkstra, SJ dan Pater Albrecht, SJ sendiri.
Tahun 1971, Pater
Albrecht menyerahkan jabatan Direktur Pengelola
CUCO kepada Robby Tulus untuk meneruskan
karya sosial ekonominya dan beliau
melanjutkan karya-karyanya sebagai biarawan. Walaupun perangkat
organisasi sudah ada, namun Credit Union secara resmi baru berjalan pada tahun
1976 setelah terbentuk Biro Konsultasi Koperasi Kredit (BK3). Seiring waktu,
nama CUCO di Indonesia diubah menjadi Badan Koordinasi Koperasi Kredit
Indonesia (BK3I) pada Konferensi Nasional Koperasi Kredit Indonesia pada tahun
1981. Kini BK3I sudah dikenal dengan nama Induk Koperasi Kredit (INKOPDIT).
Setelah
menjadi warga Negara Indonesia, Pater Albrecht memiliki nama Indonesia Karim
Arbie. Tahun 1980,
Pastor Karim pindah dan menjadi pastor pembantu di Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok. Tahun 1985 pindah lagi ke Paroki Santa Anna[1],
Duren Sawit, Jakarta Timur sampai 1990 kemudian langsung ditugaskan ke
Timor-Timur di usia 61 tahun. Pada 27 Juli 1997, beliau masih sempat merayakan
40 tahun imamatnya di Altusried. Pada 11
September 1999 beliau tertembak orang tak dikenal di Dilli, Timor-Timur.
Aspek
|
Tahun
2010
|
Tahun
2001
|
Pertumbuhan
Pertahun
|
%
|
Jumlah CU/ Kopdit
|
929
|
1.071
|
-14
|
-1
|
Jumlah Anggota
|
1.529.918
|
295.924
|
123.399
|
42
|
Jumlah Simpanan
|
8.219.764.839.796
|
258.433.211.276
|
796.133.162.852
|
308
|
Jumlah Pinjaman
|
7.247.962.146.827
|
272.123.844.586
|
697.563.830.224
|
256
|
Total Aset
|
9.622.311.209.254
|
358.153.820.741
|
926.415.738.851
|
259
|
Berdasarkan data dari INKOPDIT yang didapat dari www.cucoindo.org.[3]
Pada tahun 2011, tercatat 930 CU/Kopdit dengan anggota 1.808.329 total
simpanan Rp. 11.025.939.918.193, total Pinjaman Rp. 9.701.758.278.010 dengan total seluruh asset sebesar Rp. 12.823.819.299.565.
Dari perjalanan sejarah Credit Union di Indonesia, inilah nama-nama Inisiator gerakan awal Credit Union
di Indonesia:
1.
Albrecht Karim Arbie, SJ
2.
Robby Tulus
3.
Ir. Ibnoe Soedjono
4.
John Collins, SJ
5.
RM. Margono Djoyohadikusumo
6.
Prof. Dr. Fuad Hasan
7.
Mochtar Lubis
8.
Prof. Dr. A.M. Kadarman, SJ
9.
A.J. Sumandar,
10.
John Dijkstra, SJ
11.
FX. Bambang Ismawan
12.
Frans Lubbers, OSC
13.
Nico Susilo
14.
Sumitro
15.
FX. Susanto
16.
Hubertus Woeryanto
17.
Theodorus Trisna Ansarli.
18.
A.C. Lunandi
19.
Suharto Nazir
20.
Sukartono
[1] Penulis
mengenal Pastor Karim lebih dari 3 tahun, ketika ia menjadi ketua Mudika Paroki di gereja Santa
Anna Duren Sawit Jakarta.
[2] Tabel merupakan
bagian dari sambutan Bpk. Abat Elias SE General Manager INKOPDIT yang
dipresentasikan pada Seminar Inkopdit – Puskopdit BKCU-Kalimantan di Jakarta
tanggal 16 Mei 2011.
